STRATEGI GURU DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA PADA PENYELESAIAN SOAL CERITA SISWA KELAS V DI SEKOLAH DASAR
Isi Artikel Utama
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada penyelesaian soal cerita siswa kelas V di MI Ma'arif NU Kebalandono serta mengidentifikasi bentuk-bentuk kesulitan yang dialami siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas guru matematika kelas V dan siswa kelas V. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika meliputi: (1) penggunaan metode dan media pembelajaran, (2) pemberian bimbingan dan pendampingan, (3) pemberian motivasi dan penguatan, (4) pengelolaan kelas yang efektif, serta (5) evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran. Adapun kesulitan yang dialami siswa meliputi kesulitan memahami soal cerita, kesulitan mengoperasikan penyelesaian soal, dan kesulitan menentukan konsep matematika yang tepat. Penerapan strategi tersebut membantu siswa lebih memahami isi soal, meningkatkan kemampuan menentukan langkah penyelesaian, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika.
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Referensi
Soal Cerita.
PENDAHULUAN
Matematika menjadi salah satu pelajaran yang kerap dianggap menantang oleh banyak siswa di Indonesia. Hambatan dalam mempelajari matematika sudah terlihat sejak bangku sekolah dasar, saat siswa mulai mengenal konsep bilangan, operasi hitung, serta cara berpikir logis. Tidak sedikit siswa mengalami kesulitan memahami konsep-konsep awal ini, sehingga menimbulkan persoalan yang lebih rumit pada jenjang pendidikan selanjutnya (Siregar & Wandini, 2024). Salah satu permasalahan yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran matematika adalah menyelesaikan soal cerita. Soal cerita tidak hanya menuntut kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan memahami bahasa, menganalisis informasi, serta menghubungkan permasalahan dengan konsep matematika yang tepat (Jannah, 2025). Dalam praktiknya, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan informasi yang diketahui dan ditanyakan, memilih operasi hitung yang sesuai, serta mengubah permasalahan ke dalam bentuk model matematika.
Maryani, (2022) menyatakan bahwa kesulitan siswa belum menguasi konsep dasar matematika atau karena kemampuan berpikir mereka masih belum berkembang secara maksimal. Proses pembelajaran matematika ditingkat sekolah dasar sering menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika siswa harus menyelesaikan soal cerita. Oleh karena itu, guru perlu memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa agar kesulitan tersebut dapat diatasi secara efektif. Siswa yang belum memahami materi pelajaran akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal, terutama soal cerita yang menuntut kemampuan memahami konsep dan menerapkannya dalam suatu permasalahan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan siswa tidak mencapai hasil belajar yang diharapkan (Humairah, 2021) .Selain itu, kesulitan dalam kecepatan berhitung dan menghafal rumus juga menjadi faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Humairah & Khasanah, (2024) Rendahnya pemahaman konsep matematika menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menentukan konsep yang tepat ketika menyelesaikan soal cerita. Akibatnya, siswa sering mengalami kebingungan dalam memilih rumus atau prosedur penyelesaian yang sesuai dengan informasi yang terdapat dalam soal.
Strategi guru adalah perencanaan untuk serangkaian aktivitas tertentu yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan (Bestarani, 2024). Dalam membantu siswa mengatasi kesulitan menyelesaikan soal cerita matematika, guru dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami masalah, menganalisis informasi, serta menentukan langkah penyelesaian yang tepat. Strategi tersebut dapat berupa penggunaan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemberian latihan secara bertahap, pemanfaatan media pembelajaran yang konkret, serta pengaitan materi dengan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui strategi yang tepat, siswa diharapkan mampu memahami konsep matematika secara lebih mendalam dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal cerita. Astuti, (2023) menyatakan bahwa untuk mengatasi kesulitan belajar matematika, guru dapat menerapkan berbagai strategi, seperti menggunakan media konkret, memperbanyak latihan soal, dan membangun kolaborasi dengan orang tua sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan pemahaman siswa terhadap materi matematika meningkat.
Salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan CTL mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan siswa sehingga siswa lebih mudah memahami hubungan antara konsep matematika dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, siswa dapat memahami bahwa soal cerita bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan representasi dari permasalahan yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, pendekatan CTL dapat membantu siswa memahami isi soal, menentukan konsep yang tepat, serta menyelesaikan soal cerita. Kurniasih (2021) menjelaskan bahwa penerapan CTL melibatkan tujuh komponen utama, yaitu inquiry, constructivism, modelling, learning community, questioning, authentic assessment, dan reflection. Ketujuh komponen tersebut saling melengkapi dalam membantu siswa memahami konsep dan menyelesaikan soal cerita matematika. Melalui kegiatan inquiry, siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri langkah-langkah penyelesaian masalah, mulai dari memahami informasi dalam soal, menentukan kata kunci, hingga menarik kesimpulan. Sementara itu, komponen konstruktivisme memungkinkan siswa membangun pemahaman secara mandiri melalui pengalaman nyata dan kerja sama dengan teman sebaya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan lingkungan belajar yang mendukung proses berpikir kritis dan pemecahan masalah siswa. Dengan demikian, penerapan strategi pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih mendalam serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal cerita.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di MI Kebalandono pada tanggal 8 Oktober 2025 menunjukkan bahwa sebagian siswa kelas V, yaitu sekitar 8 dari 30 siswa kelas V, sebanyak 22 siswa atau sekitar 73% telah mampu memahami dan menyelesaikan soal cerita matematika dengan baik, sedangkan 8 siswa atau 27% lainnya masih mengalami kesulitan. Kesulitan tersebut tampak ketika siswa dihadapkan pada soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sebagian siswa masih berorientasi pada penggunaan rumus secara langsung tanpa memahami konsep dan informasi yang terdapat dalam soal, sehingga mengalami kesulitan dalam menentukan prosedur penyelesaian yang sesuai. Dalam konteks inilah, guru berperan penting dalam membimbing siswa memahami isi soal serta membangun pola pikir yang lebih terstruktur dan kritis dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai agar siswa mampu memahami informasi yang terdapat dalam soal, menentukan langkah penyelesaian yang tepat, serta menghubungkan konsep matematika dengan permasalahan yang dihadapi.
Guru matematika memiliki peran penting dalam membantu siswa mengatasi kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita. Peran guru tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator yang membimbing siswa dalam memahami konteks permasalahan, menganalisis informasi yang tersedia, serta mengubah permasalahan ke dalam model matematika yang tepat. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa agar kesulitan belajar yang dialami dapat diatasi secara efektif.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul "Strategi Guru dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika pada Soal Cerita Siswa Kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono." Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika serta strategi yang diterapkan guru untuk membantu siswa mengatasi kesulitan tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu fenomena secara mendalam (Fadli, 2023). Penelitian ini dilakukan di MI Kebalandono Desa Kebalandono Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan. Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2025/2026.
Subjek penelitian terdiri dari guru matematika kelas V, dan siswa kelas V. sumber data dalam penelitian ini terdiri data primer dan data skunder. Data primer diperoleh langsung dari subjek penelitian melalui observasi, dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari dokumen internal sekolah seperti profil sekolah, data siswa, (RPP), modul ajar, bahan ajar, serta berbagai dokumen lainnya.
Peneliti menganalisis data menggunakan teori Miles dan Huberman dengan cara mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Pada tahap dalam menguji kredibilitas data menggunakan triangulasi (kombinasi) dan analisis data. Peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan instrument manusia dan mengharuskan penelitian berinterasksi dengan sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara mendalam (Nurfajriani & Ilhami, 2024).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
a. Strategi Guru Dalam Pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di kelas V MI Kebalandono, ditemukan bahwa guru menerapkan berbagai langkah pembelajaran dalam membantu siswa mengatasi kesulitan menyelesaikan soal cerita matematika. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk membantu siswa memahami isi soal, mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, menentukan operasi hitung yang sesuai, serta menarik kesimpulan dengan tepat.:
a) Penggunaan Metode dan Media Pembelajaran
Guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian latihan dalam pembelajaran matematika. Selain itu, guru juga memanfaatkan media pembelajaran untuk membantu siswa memahami soal cerita. Penggunaan metode dan media tersebut dinilai cukup baik karena mampu membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih jelas dan sistematis. Melalui metode ceramah, guru dapat menjelaskan materi serta langkah-langkah penyelesaian soal cerita secara terarah. Metode tanya jawab digunakan untuk mendorong keaktifan siswa dalam mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, sedangkan pemberian latihan bertujuan membiasakan siswa menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam berbagai bentuk soal cerita.
Sementara itu, penggunaan media pembelajaran membantu siswa memvisualisasikan permasalahan yang terdapat dalam soal sehingga konsep yang bersifat abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Dengan demikian, penggunaan metode dan media pembelajaran yang bervariasi dapat membantu siswa memahami konsep matematika, menentukan langkah penyelesaian yang tepat, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal cerita.
b) Pemberian bimbingan dan pendampingan
Guru memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Bimbingan dilakukan dengan menjelaskan kembali isi soal, membantu siswa mengidentifikasi informasi penting, serta mengarahkan siswa dalam menentukan operasi hitung yang sesuai. Selain itu, guru juga memberikan latihan secara bertahap agar siswa terbiasa memahami dan menyelesaikan berbagai bentuk soal cerita. Strategi ini dinilai cukup baik karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh bantuan secara langsung ketika mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran. Melalui bimbingan yang diberikan, siswa menjadi lebih mudah memahami maksud soal dan langkah-langkah penyelesaiannya. Sementara itu, latihan yang dilakukan secara bertahap membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep serta membiasakan mereka dalam menerapkan prosedur penyelesaian soal cerita dengan lebih tepat.
c) Pemberian Motivasi dan Penguatan
Guru memberikan motivasi dan penguatan kepada siswa melalui pemberian dorongan, pujian, serta arahan selama proses pembelajaran. Motivasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika dan mengurangi rasa takut terhadap mata pelajaran matematika. Strategi ini dinilai cukup baik karena mampu menciptakan suasana belajar yang lebih positif dan mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pemberian pujian atas usaha dan keberhasilan siswa dapat meningkatkan semangat belajar, sedangkan arahan yang diberikan guru membantu siswa lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat maupun mencoba menyelesaikan soal yang dianggap sulit. Dengan adanya motivasi dan penguatan yang diberikan secara berkelanjutan, siswa menjadi lebih berani menghadapi soal cerita matematika serta lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuan belajarnya.
d) Pengelolahan kelas yang efektif
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, guru menerapkan pengelolaan kelas yang efektif untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dalam pembelajaran matematika. Guru mengatur tempat duduk siswa, menjaga ketertiban kelas, serta memberikan perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita. Selain itu, guru membangun komunikasi yang baik dengan siswa melalui kegiatan tanya jawab dan diskusi sehingga siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang baik membantu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, meningkatkan konsentrasi siswa, serta memudahkan guru dalam membimbing siswa memahami soal cerita matematika.
e) Evaluasi dan Tindak Lanjut Pembelajaran
kegiatan tanya jawab untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai dasar dalam menentukan langkah tindak lanjut pembelajaran, terutama bagi siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Strategi ini dinilai cukup baik karena membantu guru mengidentifikasi kemampuan dan kendala yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran. Melalui pemberian tugas dan latihan, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa memahami konsep yang diajarkan serta kemampuan mereka dalam menerapkan konsep tersebut pada soal cerita. Selain itu, kegiatan tanya jawab memberikan kesempatan kepada guru untuk memperoleh umpan balik secara langsung mengenai pemahaman siswa. Berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh, guru dapat memberikan penguatan, bimbingan tambahan, maupun latihan lanjutan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian, evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran menjadi bagian penting dalam membantu siswa mengatasi kesulitan belajar matematika dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal cerita.
i. Kesulitan Belajar
Evaluasi kelayakan materi ajar merupakan tahap penting dalam pengembangan bahan ajar karena menentukan apakah suatu bahan benar-benar layak digunakan dalam pembelajaran. Dalam perspektif evaluasi pendidikan, penilaian bahan ajar tidak hanya berfokus pada isi materi, tetapi juga pada kualitas penggunaan, keterpahaman, dan efektivitas bahan ajar ketika diimplementasikan di kelas. Oleh karena itu, proses evaluasi perlu dilakukan secara sistematis dengan melibatkan berbagai teknik agar data yang diperoleh lebih objektif, komprehensif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Teknik evaluasi yang umum digunakan meliputi expert judgment, angket penilaian, observasi, dan dokumentasi (Arikunto, 2022).
Secara teoretis, evaluasi bahan ajar dapat dijelaskan melalui model evaluasi formatif dari Michael Scriven yang menempatkan evaluasi sebagai proses perbaikan berkelanjutan terhadap produk pendidikan sebelum digunakan secara luas. Dalam konteks ini, bahan ajar dinilai terlebih dahulu, diuji, direvisi, lalu dinilai kembali hingga mencapai kualitas yang diharapkan. Pendekatan ini banyak digunakan dalam penelitian pengembangan bahan ajar karena memungkinkan revisi berbasis data sebelum produk diimplementasikan dalam pembelajaran (Scriven; Sugiyono, 2022).
j. Kesulitan Memahami Soal
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami soal cerita matematika. Kesulitan tersebut terlihat ketika siswa diminta mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. Sebagian siswa belum mampu memahami makna kalimat dalam soal sehingga mengalami kesulitan dalam menentukan langkah penyelesaian yang tepat. Selain itu, beberapa siswa cenderung langsung melakukan perhitungan tanpa memahami informasi yang tersedia dalam soal. Kesulitan memahami soal juga dipengaruhi oleh faktor internal siswa. Berdasarkan hasil wawancara, beberapa siswa memiliki kemampuan membaca yang masih rendah serta kurang berkonsentrasi saat pembelajaran berlangsung. Kondisi tersebut menyebabkan siswa kesulitan memahami informasi penting dalam soal cerita dan menentukan langkah penyelesaian yang tepat.
k. Kesulitan Mengoprasikan dan memahami soal cerita
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan dan memahami soal cerita matematika. Kesulitan tersebut terlihat ketika siswa menentukan operasi hitung yang sesuai dengan permasalahan yang diberikan. Sebagian siswa belum mampu menghubungkan informasi dalam soal dengan konsep matematika yang tepat sehingga sering melakukan kesalahan dalam proses perhitungan. Kesulitan ini tergolong kurang baik karena dapat memengaruhi ketepatan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Selain itu, faktor internal siswa seperti lemahnya pemahaman konsep dasar matematika, kurangnya ketelitian, dan rendahnya konsentrasi saat pembelajaran turut menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menentukan serta mengoperasikan langkah penyelesaian yang tepat. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Farhan & Jumardi, 2023) yang menyatakan bahwa kesulitan belajar matematika dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, di mana faktor internal meliputi rendahnya kemampuan memahami konsep, kurangnya ketelitian, serta kesulitan siswa dalam melakukan operasi hitung. Selain itu, (Hanifa dkk., 2023) juga menjelaskan bahwa kurangnya konsentrasi, motivasi, dan penguasaan konsep matematika menjadi penyebab siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan matematika.
l. Kesulitan dalam Menentukan Konsep
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan konsep matematika yang tepat untuk menyelesaikan soal cerita. Kesulitan tersebut terlihat ketika siswa belum mampu membedakan konsep atau operasi hitung yang sesuai dengan informasi yang terdapat dalam soal. Akibatnya, siswa sering memilih langkah penyelesaian yang kurang tepat sehingga jawaban yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan siswa dalam menentukan konsep matematika masih tergolong kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mampu menghubungkan informasi dalam soal cerita dengan konsep matematika yang telah dipelajari. Oleh karena itu, siswa masih memerlukan bimbingan dan latihan yang berkelanjutan agar lebih terampil dalam memilih konsep yang tepat saat menyelesaikan soal cerita matematika.
Pembahasan
Sesuai dengan deskripsi hasil peneliti diatas, pembahasan hasil penelitian mengenai strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada penyelesaian soal cerita di MI Ma’rif Nu Kebalandono. Dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan yaitu, mengenai strategi guru dalam mengatasi kesulitan matematika pada penyelesaian soal cerita di MI Ma’rif Nu Kebalandono, yang teradapat indikator-indikator startegi guru dan kesulitan belajar matematika yang telah peneliti lakukan maka dari data-data tersebut peneliti akan membahas satau persatu indicator dari temuan penelitian tersebut.
Dari hasil wawanacara, observasi untuk guru dan siswa diketahui bahwa telah berusaha untuk memaksimalkan strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada penyelesaian soal cerita pada siswa kelas V.
b. Strategi Guru Dalam Pembelajaran
a) Penggunaan Metode dan Media Pembelajaran
Guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian latihan dalam pembelajaran matematika untuk membantu siswa memahami soal cerita. Sebelum proses pembelajaran di kelas V MI M’arif Nu kebalandono guru juga memanfaatkan media pembelajaran sebagai alat bantu agar siswa lebih mudah memahami konsep matematika, mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, serta menentukan langkah penyelesaian soal. Sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru mempersiapkan metode, media, dan materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan siswa. Persiapan tersebut dilakukan agar proses pembelajaran berjalan lebih terarah dan membantu siswa memahami materi secara optimal. Hal ini sejalan dengan pendapat (Dzikri, 2023) yang menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran memberikan pengaruh positif terhadap efektivitas pembelajaran matematika. Senada dengan itu, (Putri & Lutfiana, 2025) menjelaskan bahwa media pembelajaran membantu siswa memahami konsep matematika secara lebih baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
b) Pemberian bimbingan dan pendampingan
Pemberian bimbingan dan pendampingan merupakan salah satu strategi yang diterapkan guru dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika di kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono. Selama proses pembelajaran, guru memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami soal cerita, menentukan langkah penyelesaian, maupun melakukan perhitungan. Selain itu, guru juga melakukan pendampingan secara individual maupun kelompok agar siswa memperoleh arahan yang sesuai dengan kebutuhannya. Melalui bimbingan dan pendampingan tersebut, diharapkan siswa lebih mudah memahami materi, meningkatkan kepercayaan diri, dan mampu menyelesaikan soal cerita matematika dengan lebih baik. Sejalan dengan ( Safitri dan Rahmawati, 2023) yang menyatakan bahwa bimbingan dan pendampingan guru berperan penting dalam membantu siswa memahami konsep, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa.
c) Pemberian Motivasi dan Penguatan
Pemberian motivasi dan penguatan merupakan salah satu strategi yang diterapkan guru dalam pembelajaran matematika di kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono. Selama proses pembelajaran, guru memberikan motivasi kepada siswa agar tetap semangat belajar, percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Selain itu, guru juga memberikan penguatan berupa pujian, apresiasi, maupun dorongan positif atas setiap usaha yang dilakukan siswa. Dengan adanya motivasi dan penguatan tersebut, diharapkan siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan mampu meningkatkan pemahaman. Rahman, (2021) menjelaskan bahwa pemberian motivasi dan penguatan oleh guru dapat meningkatkan semangat belajar, rasa percaya diri, serta mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
d) Pengelolahan kelas yang efektif
Pengelolaan kelas yang efektif menjadi salah satu strategi guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada siswa kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono. Guru menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan mengatur tempat duduk siswa, menjaga ketertiban kelas, serta membangun interaksi yang baik selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat sehingga siswa merasa nyaman dan lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Pengelolaan kelas yang baik juga membantu guru memberikan perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami soal cerita matematika tanpa mengganggu jalannya pembelajaran. Dengan suasana kelas yang tertib, nyaman, dan kondusif, siswa menjadi lebih fokus dalam belajar, lebih mudah memahami materi, serta lebih percaya diri dalam menyelesaikan soal cerita matematika.
e) Evaluasi dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran menjadi salah satu strategi yang diterapkan guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada siswa kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono. Setelah proses pembelajaran berlangsung, guru melakukan evaluasi melalui pemberian soal latihan, tugas, maupun kegiatan tanya jawab untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari, khususnya pada materi soal cerita matematika. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran bagi siswa yang masih mengalami kesulitan. Guru memberikan bimbingan, penguatan, serta latihan tambahan sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa agar mereka lebih memahami konsep yang dipelajari. Melalui evaluasi dan tindak lanjut yang dilakukan secara berkelanjutan, guru dapat memantau perkembangan belajar siswa sekaligus membantu mereka meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita matematika.
c. Kesulitan Belajar
a) Kesulitan memahami soal
Dalam penelitian ini, kesulitan memahami soal merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono. Kesulitan tersebut terlihat ketika siswa belum mampu memahami isi soal cerita, mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan, serta menentukan maksud dari permasalahan yang terdapat dalam soal. Akibatnya, siswa sering mengalami kebingungan dalam menentukan langkah awal penyelesaian sehingga jawaban yang diberikan kurang tepat. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami soal cerita matematika sehingga memerlukan bimbingan dan pendampingan dari guru agar dapat memahami isi soal dengan lebih baik sebelum menyelesaikannya. Kesulitan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa, seperti rendahnya kemampuan memahami bacaan, kurangnya konsentrasi saat pembelajaran berlangsung, minimnya penguasaan konsep dasar matematika, serta rendahnya rasa percaya diri dalam menyelesaikan soal cerita. Faktor-faktor tersebut menyebabkan siswa kesulitan menghubungkan informasi yang terdapat dalam soal dengan konsep matematika yang harus digunakan sehingga proses penyelesaian soal menjadi kurang tepat.
b) Kesulitan mengoperasikan dan memahami soal cerita
Dalam penelitian ini, kesulitan mengoperasikan dan memahami soal cerita merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono. Kesulitan tersebut terlihat ketika siswa belum mampu menentukan operasi hitung yang tepat sesuai dengan permasalahan dalam soal cerita, seperti membedakan penggunaan penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Selain itu, siswa juga masih mengalami kesulitan dalam menerapkan langkah-langkah penyelesaian setelah memahami isi soal, sehingga sering terjadi kesalahan dalam proses perhitungan maupun hasil akhir. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan dan menyelesaikan soal cerita matematika, sehingga memerlukan bimbingan dan latihan secara berkelanjutan agar kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal cerita dapat meningkat.
c) Kesulitan dalam menentukan konsep
Dalam penelitian ini, kesulitan dalam menentukan konsep merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa. Kesulitan tersebut terlihat ketika siswa belum mampu menentukan konsep atau rumus yang sesuai dengan permasalahan yang terdapat dalam soal cerita. Siswa masih mengalami kebingungan dalam mengaitkan informasi yang diketahui dengan konsep matematika yang harus digunakan untuk menyelesaikan soal, sehingga sering memilih langkah penyelesaian yang kurang tepat. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masih terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan konsep yang sesuai pada soal cerita matematika. Oleh karena itu, siswa memerlukan bimbingan dan latihan secara berkelanjutan agar mampu memahami konsep yang tepat dan menerapkannya dalam penyelesaian soal cerita.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa guru kelas V MI Ma'arif NU Kebalandono telah menerapkan berbagai strategi dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada penyelesaian soal cerita, yaitu melalui penggunaan metode dan media pembelajaran yang bervariasi, pemberian bimbingan dan pendampingan, pemberian motivasi dan penguatan, pengelolaan kelas yang efektif, serta evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran. Strategi tersebut membantu siswa memahami soal cerita, menentukan langkah penyelesaian, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam pembelajaran matematika. Meskipun demikian, masih terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami isi soal, menentukan operasi hitung, dan memilih konsep matematika yang tepat. Oleh karena itu, guru diharapkan terus mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan memberikan bimbingan serta latihan secara berkelanjutan. Sekolah juga diharapkan mendukung penyediaan sarana pembelajaran yang memadai, sedangkan siswa perlu lebih aktif berlatih dan meningkatkan pemahaman konsep matematika agar kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita semakin baik. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan kajian ini dengan cakupan yang lebih luas dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berbeda sehingga diperoleh hasil yang lebih komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. (2022). Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Soal Matriks. AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 1(1), 22–32. https://doi.org/10.61553/abjme.v1i1.15
Astuti, N. (2023). Strategi Guru Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Terindikasi Disleksia. PrimEarly : Jurnal Kajian Pendidikan Dasar Dan Anak Usia Dini, 6(2), 128–135. https://doi.org/10.37567/primearly.v6i2.2605
Bestarani, I. (2024). Strategi Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Kelas Vi B Pada Mata Pelajaran Matematika Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Sambas Kecamatan Tebas Kebupaten Sambas Tahun Pelajaran 2022-2023. 2(2), 253–264.
Dzikri, D. (2023). Implementasi Media Pembelajaran Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Belajar Generasi Z. Jurnal Tahsinia, 4(2), 401–414. http://jurnal.rakeyansantang.ac.id/index.php/ths/article/view/181%0Ahttp://jurnal.rakeyansantang.ac.id/index.php/ths/article/download/181/267
Fadli, M. R. (2023). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Medan, Restu Printing Indonesia, Hal.57, 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.
Farhan, M. N., & Jumardi, J. (2023). Faktor Kesulitan Siswa Sekolah Dasar Dalam Belajar Matematika. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 9(2), 874–879. https://doi.org/10.31949/educatio.v9i2.4934
Hanifa, N., Siregar, N., Azzahra, P. Y., & Murni, R. (2023). Pengaruh Covid-19 Terhadap Hasil Belajar Matematika SiswaKelas VI Sekolah Dasar Swasta At-Taufiq Kec. Medan Tembung. Trapsila: Jurnal Pendidikan Dasar, 5(2), 54–63.
Humairah. (2021). An AN ANALYSIS OF MATHEMATICAL REASONING ABILITY IN PROBLEM SOLVING WORD PROBLEM BASED ON GENDER AT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN. Jurnal Tunas Pendidikan, 3(2), 12–20. https://doi.org/10.52060/pgsd.v3i2.444
Humairah, H., & Khasanah, L. A. I. U. (2024). Penerapan Media Video Interaktif pada Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi Pecahan Kelas V SD. JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika Dan IPA, 4(2), 219–226. https://doi.org/10.53299/jagomipa.v4i2.518
Jannah, W. N. dkk. (2025). Jurnal Cakrawala Pendas Literacy Of Mathematical Story Problems On Problem Solving Skilss Of Elementary School Students. 11(1), 160–175.
Maryani. (2022). Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah Berdasarkan Langkah Polya. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 8(3), 831–837. https://doi.org/10.31949/educatio.v8i3.2589
Nurfajriani, W. V., & Ilhami, M. W. (2024). Triangulasi Data Dalam Analisis Data Kualitatif. XJurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(17), 1–23.
Putri, A. O., & Lutfiana, F. (2025). Penggunaan Media Pembelajaran Oppa Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Mts [the Use of Oppa Learning Media To Improve Students’ Understanding of Mathematical Concepts in Mts]. JOHME: Journal of Holistic Mathematics Education, 9(2), 272–286. https://doi.org/10.19166/johme.v9i2.10278
Rahman. (2021). Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik di SMK Negeri 71 Jakarta. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 9(3), 1799–1812. https://doi.org/10.58258/jime.v9i3.5716
Rahmawati, safitri dan. (2023). Penerapan Pendampingan Individu terhadap Literasi Baca dan Tulis Siswa Kelas 2 Sekolah Dasar. Journal of Education Research, 4(3), 924–929. https://doi.org/10.37985/jer.v4i3.285
Siregar, A. R. F., & Wandini, R. R. (2024). Solusi guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa dalam pembelajaran matematika di SD/MI. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1), 3600–3605. https://www.jptam.org/index.php/jptam/article/view/12954/9934
Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Edisi 2, Cetakan ke-29). Bandung: Alfabeta.