REPRESENTASI DAMPAK PERUNDUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK PENYANDANG DISABILITAS TUNARUNGU PADA FILM A SILENT VOICE

Isi Artikel Utama

Salsa Billa Fitria Yunisa
Toni Yudha Pratama
Sistriadini Alamsyah Sidik

Abstrak

Perkembangan emosional secara bertahap dengan baik sangat penting bagi setiap anak tanpa terkecuali anak disabilitas. Tidak baiknya perkembangan emosional diakibatkan salah satunya yaitu perundungan tindakan yang memberikan dampak berupa trauma pada anak, Perlunya media seperti film yang bertujuan menjadi komunikasi terhadap masyarakat pada dampak tindakan perundungan. Film yang merepresentasikan atau menjelaskan makna realitas dari dampak perundungan terhadap anak tunarungu yaitu, film animasi Jepang ‘Koe no Katachi’ atau  dalam bahasa Inggris berjudul A Silent Voice.  Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk memaknai bagaimana representasi dampak perundungan terhadap perkembangan emosional anak disabilitas tunarungu pada film A Silent Voice. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan studi Pustaka terhadap scene pada film A Silent Voice berdasarkan landasan teori. Analisis data menggunakan semiotika yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce, yaitu representamen, object, interpretant. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan jika film A Silent Voice ditemukan dampak terhadap mengontrol emosional, sosial emosional dan menyakiti diri sendiri. Dampak terhadap perkembangan emosional yang dirasakan korban perundungan sangat diperlihatkan bagaimana dirinya merasa kurang percaya diri, sedih , dan hingga berkeinginan menyakiti diri.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Fitria Yunisa, Salsa Billa, Toni Yudha Pratama, dan Sistriadini Alamsyah Sidik. “REPRESENTASI DAMPAK PERUNDUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK PENYANDANG DISABILITAS TUNARUNGU PADA FILM A SILENT VOICE”. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) 6, no. 1 (Februari 28, 2026): 114–124. Diakses Maret 3, 2026. https://jurnal.spada.ipts.ac.id/index.php/JIPDAS/article/view/3857.
Bagian
Artikel

Referensi

Andini, L. S., & Kurniasari, K. (2021). Bullying berhubungan dengan kejadian gangguan cemas pada pelajar SMA. Jurnal Biomedika Dan Kesehatan, 4(3), 99–105.

Azhari, et al. (2023) Pengaruh Perkembangan Pendidikan Karakter Dalam Mengatasi Masalah Bullying Di Indonesia. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan. Vol.2, No.4: hlm 257-271

Coloroso, B. (2007). Stop Bullying: Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah hingga SMU. Diterjemahkan oleh: Santi Indra Astuti. PT. Serambi Ilmu Semesta Jakarta.

Fiske, J. (2014). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Hall, S. (2003). He work of representation:Representation:Cultural Representations and Signifying Practices (Culture, Media and Identities series). Ed Stuart Hall Sage publication.

Kennedy, A. et al. (2024). Emotion dysregulation, bullying, and suicide behaviors in adolescents. The Journal of Affective Disorders

Khaironi, M. (2018) ‘Perkembangan Anak Usia Dini’, Jurnal Golden Age, 2(01),

p. 01. doi: 10.29408/goldenage.v2i01.739.

Lian, Y. et al (2022) Longitudinal relationships between bullying and prosocial

behavior: The mediating roles of trauma-related guilt and shame. PsyCh Journal. hlm: 1-8

Moorea, et al (2015) “The Effects of Exposure to an Enhanced Preschool Program on the Social-Emotional Functioning of at-Risk Children.” Early Childhood Research Quarterly 32: hlm 127–38

Somantri, S. (2012). Psikologi Anak Luar Biasa. Banten: PT Refika Aditama.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitati dan R&D. Bandung:

Alfabeta Jl. Gegerkalong Hilir No. 84.

Xu, X. et al. (2024) Longitudinal Relationships Between Bullying Victimization and Dual Social Behaviors: The Roles of Self-Compassion and Trauma Related Shame. Dovepress-Psychology Research and Behavior Management. No.17:hlm 1463–1475

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama

1 2 > >>